BANDUNG — Tempat Pemrosesan Akhir Sarimukti diproyeksikan mencapai kapasitas penuh pada akhir 2026. Kondisi itu menjadi perhatian karena kawasan Bandung Raya menghasilkan sekitar 5.000 ton sampah per hari dan masih bergantung pada fasilitas tersebut.
Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman menjelaskan seusai rapat paripurna DPRD Jabar pada Selasa, 6 Oktober 2026, bahwa pemerintah menyiapkan langkah dari hulu hingga hilir untuk mencegah krisis sampah. Salah satu langkah jangka pendek adalah mengoptimalkan Zona 5 melalui rekayasa teknis dan pemadatan.
Pemerintah provinsi melibatkan perangkat daerah dan ahli Institut Teknologi Bandung untuk menganalisis kapasitas tambahan sekaligus aspek keamanan, termasuk keberadaan gas metana. Kajian tersebut akan menentukan berapa lama masa operasional Sarimukti dapat diperpanjang setelah pekerjaan pemadatan hingga Desember.
Dua gravity wall juga direncanakan pada sisi selatan dan timur untuk menambah ruang penanganan. Sementara untuk jangka menengah, pemerintah menyiapkan instalasi pirolisis yang ditargetkan mulai dipasang pada akhir 2026 dan beroperasi pada 2027 dengan sasaran mengolah sekitar 1.000 ton sampah lama per hari menjadi bahan bakar.
Alternatif lain berupa pengolahan menjadi refuse-derived fuel masih dikaji, terutama terkait kepastian pembeli hasil olahan, kesiapan teknis, dan sumber daya manusia. Pemerintah menekankan bahwa teknologi hilir tidak cukup jika volume sampah dari sumbernya terus bertambah.
Karena itu, sebanyak 25.000 mahasiswa ditargetkan terlibat selama tiga bulan sejak Oktober untuk mendampingi masyarakat mengurangi, memilah, memanfaatkan, dan mengolah sampah dari tingkat rumah tangga hingga kecamatan.
Sumber informasi: Titik Bandung, berdasarkan keterangan Pemprov Jawa Barat, 10 Oktober 2026.
