Paling utama yang saat ini dilakukan adalah pembuatan sumur resapan. Hal ini harus dilakukan karena ruas jalan di Kota Bandung yang menyempit.
Menurut dia, setiap rumah dengan luas 100 meter persegi harus dibangun sumur resapan. ”Kalau ada 10 ribu rumah, bisa dibayangkan ada betapa ribu sumur resapan yang ada,” ucapnya.
Demikian halnya dengan koordinasi wilayah di Bandung Raya. Ini mutlak dilakukan untuk mengoordinasikan arus air. Bandung tidak akan bisa menangani banjir sendirian. ”Komitmen bersama yang beberapa hari lalu diinisiasi Pemprov dan para kepala daerah di Bandung Raya merupakan langkah positif,” tandasnya.
”Tapi ini kan baru komitmen di atas kertas, belum aksi. Nah, pelaksanaan di lapangan inilah yang musti segera dikerjakan dengan serius,” tandasnya lagi.
Rugi Miliaran Rupiah
Sementara itu, banjir di Jalan Raya Bandung-Garut berdampak buruk pada perusahaan di sekitar lokasi kejadian. Meski tak disebutkan secara rinci, akibat kejadian itu perusahaan-perusahaan tersebut mengalami kerugian hingga miliaran rupiah.
Kepala Bagian Umum PT Kahatek Luddy Sutedja membenarkan terkait hal itu. Bahkan bagi pihaknya selain kerugian materi, Kahatek juga dirugikan dengan adanya pemberitaan yang selalu menyangkutkan nama Kahatek jika terjadi banjir.
”Banjir yang selalu menggenangi jalan raya tidak ada kaitanya dengan perusahaan kami. Penyebab banjir karena fungsi drainase tidak berjalan normal. Kenapa setiap ada banjir selalu disangkut pautkan dengan kahatek,” kata Luddy Sutedja kepada Jabar Ekspres di kantornya, belum lama ini.
Secara rinci dia menjelaskan, jika terjadi luapan air akibat banjir itu lebih disebabkan karena sistem drainase yang buruk. Sehingga terjadi luapan ke tengah jalan. Selain itu, sungai Cikijing tidak bisa menahan debit air jika terjadi hujan besar.

