Dengan kapastitas yang ada, kata dia, pompa permanen ini memiliki anggaran yang paling besar. Yakni, Rp 21 miliar karena mengunakan menggunakan daya listrik. ”Cara kerjanya, pompa tersebut bergerak secara otomatis. Jika sudah sudah ada air yang tergenang, dia akan berjalan sendiri,” urainya sambil menambahkan, pompa tersebut akan ada pada Desember 2016.
Teknis lainnya, kata dia, pompa tersebut tidak akan berhenti sebelum genangan air di permukaan surut. Ketika air surut, pompa akan berhenti. ”Untuk tiga pompa lainnya hanya memakan anggaran Rp 2,5 miliar. Cara kerjanya hanya menggunakan jenset,” katanya.
Tiga pompa ini, ungkap dia, bisa digunakan berpindah-pindah. Kelebihannya, pompa mobileini juga memiliki kapasitas sedot yang sama dengan pompa permanen. ”Untuk pengadaan sendiri, saat ini sedang dilakukan pencairan anggaran,” kata dia. ”Paling lambat bulan Desember, semua pompa tersebut baru,” sambungnya.
Nah, ketika pompa tersebut terpasang di Desember. Maka penggunaan pun, kata dia, baru bisa berjalan tahun depan.
Lantas yang selama ini menyedot banjir di Gedebage? Diakuinya, saat ini DBMP Kota Bandung hanya memiliki empat pompa permanen yang berada di Gedebege dengan fungsi menyedot dan pendorong. ”Di Gedebage itu, untuk pompa penyedot dan pendorong masing-masing dua buah,” ungkapnya.
Walaupun begitu, saat ini DBMP Kota Bandung memiliki Tim Unit Reaksi Cepat (URC) dari enam Unit Pelaksana Teknis (UPT). Di mana tiap UPT memiliki dua pompa terapung. Sehingga ditotal pompa terapung di semua UPT mencapai 12 buah.
Lalu, ditambah lagi dengan pompa yang dimiliki Bidang Pengairan sejumlah enam buah. Serta, pihaknya juga memiliki mobil menyedot air sebanyak dua buah. ”Jadi, kalau ditotal DBMP memiliki pompa terapung sebanyak 18 buah dan dua mobil penyedot air,” jelasnya.

