
PETANI di Pamongkoran, Kecamatan/Kota Banjar tengah memasukkan gabah yang baru dijemur paska panen, Senin (13/4/2015). Petani menunda menjual gabah, lebih mementingkan memenuhi kebutuhan sendiri, berharap panen mendatang lebih baik.*
darikita.com ,. – BANJAR, Harga gabah anjlok hingga mencapai Rp 4.300 – Rp 4.500 per kilogram, petani di Kota Banjar membatasi menjual gabah hasil panen. Mereka mengutamakan menyimpan gabah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sendiri.
Penyimpanan gabah dalam jumlah lebih bnyak dilakukan oleh kalangan petani, untuk mengantisipasi kemungkinan naiknya harga beras. Hal itu dilakukan seiring dengan kondisi sebelumnya, harga beras hingga mencapai Rp 11.000.
“Sekarang lebih baik disimpan saja. Kami biasanya tidak beli beras, akan tetapi saat harga beras sangat mahal, justeru tidak punya gabah, habis dijua,” ungkap Ny. Dede (47) petani di wilayah Pamongkoran, Kecamatan/Kota Banjar, Senin (13/4/2015).
Di sela membersihkan gabah dari bulir hampa, dia menambahkan melonjaknya harga gabah pada awal musim panen, disebabkan karena mundurnya masa tanam. Di lain pihak, persediaan gabah di petani sudah habis dijual.
“Biar tidak terulang kembali, saya akan menyimpan gabah lebih banyak. Apalagi saat ini harga juga sedang turun. lebih baik disimpan untuk persediaan konsumsi sendiri,” ujarnya.
Didampingi petani lainnya, Endang (51), dia menambahkan hasil panen perdana musim tanam 2015, lebih banyak dibanding panen terakhir, yang hancur akibat serangan hama wereng. Saat ini, lanjutnya, hasil panen per seratus bata mencapai 8 kwintal gabah kering giling.
“Memang ada serangan hama wereng, akan tetapi tidak sebanyak sebelumnya. Mudah-mudahan hasil ini cukup sampai musim panen mendatang. Apabila menjelang panen, simpanan masih banyak, gabah baru dijual,” katanya.
Sementara itu, Endang juga akan lebih banyak menyimpan gabah hasil panen kali ini, dibandingkan menjualnya. Alasannya hal itu untuk mengantisipasi kemungkinan anjloknya produksi panen mendatang. Selain itu, khawatir harga beras kembali melonjak tajam.
“Hasil panen yang pertama disimpan. Ada sebagian yang dijual, tetapi tidak sebanyak sebelumnya. Jangan sampai beli beras lagi, apalagi harganya sangat mahal sampai Rp 11.000 per kilogram,” katanya.
Endang menambahkan kecenderungan mengurangi penjualan gabah bakal banyak dilakukan kalangan petani di wilayah Pamongkoran. Selain khawatir harga beras bakal kembali melonjak, dia khawatir kekurangan air, karena persawahan di tempat tersebut adalah tadah hujan.
“Sekarang hasil panen lumayan bagus, akan tetapi kan tidak tahu nanti harga beras bisa semakin mahal. Lebih baik menambah stok gabah, biar cukup sampai masa panen berikut. Sawah di sini, mengandalkan air hujan,” tuturnya.
Dia mengatakan akan kembali menjual gabah apabila sudah memasuki masa panen dengan hasil melimpah. Apabila hasil panen sedikit, lanjutnya, maka gabah hasil panen sebelumnya tidak dijual.
“Yang penting untuk persediaan rumah tangga sendiri dulu. Menjelang panen kembali jual, itu pun menunggu bagaimana hasil panennya. Jika sedikit yang tidak jadi dijual,” ujarnya.
Lebih lanjut Endang berharap harga gabah tidak terus merosot. Saat ini harga gabah hanya berkisar Rp 4.300 – Rp 4.500. Harga tersebut anjlok dari awal panen yang mencapai Rp 6.000 per kilogram.
“Jika harga gabah terus anjlok, petani juga bakal kesulitan. Lebih baik meminjam uang untuk kembali mengolah sawah, dibandingkan harus menjual gabah,” kata Endang.(Nurhandoko Wiyoso/A-108)***
Sumber : pikiran-rakyat.com

