Jumat, 23 Oktober 2026
Terkini
Area Bandung

Labfor Investigasi Longsor

helobandung8 Mei 20154 menit baca
Fajri Achmad NF/Bandung Ekspres TINJAU LONGSOR: Gubernur Jawa Barat Ahmad Heriawan meninjau kawasan longsor di Kampung Cibitung, Desa Margamukti, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, kemarin (7/5).
Fajri Achmad NF/Bandung Ekspres TINJAU LONGSOR: Gubernur Jawa Barat Ahmad Heriawan meninjau kawasan longsor di Kampung Cibitung, Desa Margamukti, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, kemarin (7/5).
Fajri Achmad NF/Bandung Ekspres
TINJAU LONGSOR: Gubernur Jawa Barat Ahmad Heriawan meninjau kawasan longsor di Kampung Cibitung, Desa Margamukti, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, kemarin (7/5).

Selidiki Beragam Kemungkinan

darikita.com, PANGALENGAN—Hari ke lima tim evakuasi membuahkan hasil. Jenazah Nurul, 8, berhasil ditemukan tidak jauh dari rumahnya yang berjarak 50 meter.

Dengan penemuan jenazah Nurul, maka jumlah korban tewas dalam kejadian longsor tersebut menjadi lima orang.

Ketua Basarnas Jawa Barat Anggit M Satoto mengatakan, tim evakuasi berhasil menemukan jenazah Nurul pada pukul 10.45. ’’Penemuan tersebut menggunakan alat berat di sektor tiga dekat wilayah hutan pinus,’’ kata Anggit kemarin (7/5).

Dia mengatakan, korban langsung dibawa ke Puskesmas terdekat dari tempat kejadian longsor di Kampung Cibitung, Desa Margamukti, Kecamatan Pangalengan untuk dilakukan identifikasi oleh dokter dan tim Inafis Polres Bandung.

Anggit menjelaskan, tim evakuasi berjumlah 350 orang akan melanjutkan pencarian korban lain ke tempat yang sudah direncanakan.

Sementara itu, Gubernur dan Kapolda meninjau lokasi longsor di Kampung Cibitung, Desa Margamukti, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, kemarin.

Kedatangan Kapolda ke lokasi longsor tersebut untuk memintai keterangan warga dan ahli terkait longsor dan ledakan pipa panas bumi milik PT Star Energy Geotermal.

”Kami pun akan mendatangkan tim Puslabpor Mabes Polri ke lokasi untuk mendalami masalah ini. Sebab, ada beberapa keterangan yang berbeda, apa longsor dulu lalu menghantam pipa atau ledakan pipa baru longsor,” kata Kapolda Jawa Barat Irjen Polisi Mochammad Iriawan.

Iriawan mengungkapkan, belum bisa memastikan apa penyebab kejadian tersebut. Kesimpulan akhir baru akan diutarakan sudah ada sinkronasi saksi di lapangan dan ahli. ”Makanya kami memerlukan pendalaman. Tidak sembarangan mengambil keputusan,” ucapnya.

Iriawan menegaskan, anggota sudah memintai keterangan sejumlah saksi termasuk dari pihak PT Star Energy selaku pemilik pipa gas geothermal.

”Masalah teknis. Kami ingin mengatahui tekanan dari sana berapa, kemudian ada masalah apa, dan maintenance-nya seperti apa. Hanya kami belum bisa memastikan penyebab longsor,” tegasnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heriawan mengungkapkan, pihaknya memfokuskan tentang mitigasi bencana berupa evakuasi para korban yang belum ditemukan. Di samping itu, melakukan perawat dan pendekatan secara khusus supaya para korban yang selamat bertabah dan bersabar.

”Untuk lokasi tidak terlalu sulit. Sebab ini bukan pemukiman. Ini pemukiman yang dimiliki oleh PTPN VIII. Karena itu tanggung jawab utama ada pada PTPN VIII,” tandas pria yang akrab disapa Aher tersebut.

”Kita akan minta merelokasi para pegawainya karena korban semuanya para pegawainya dan rumah-rumah bedeng milik PTPN diisi oleh para karyawan. Tentu saja jika kami diminta bantuan fasilitas kemanusiaan akan segera kami lakukan,” tambahnya.

Terkait penyebab dan indikasi, Aher mengaku sudah melakukan langkah-langkah untuk melakukan penditeksian. Pihak pemerintahan sudah koordinasi terkait hal ini.

”Katanya saat itu pipa dalam keadaan terkunci dan lagi ada saluran panas bumi yang melewati pipa tersebut. Keterangan itu apa betul-betul terjadi seperti itu atau setengah ditutup dan sebagian belum, itu kita tidak tahu, kita harus menginvestigasi hal itu. Termasuk apakah pipa meledak dulu kemudian longsor atau longsor dulu baru pipa meledak. Tim kepolisian akan segera mengungkap hal itu,” paparnya.

Sementara itu, anggota Komisi IV DPR RI Yadi Srimulyadi menyatakan, akan memanggil Kementerian Lingkungan Hidup untuk meminta penjelasan soal kondisi lingkungan di Kampung Cibitung, Desa Margamukti Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung.

Yadi mengatakan, dirinya sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Barat II yang mencakup Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat, merasa berkewajiban untuk mempertanyakan terjadinya longsor yang menewaskan lima korban jiwa, tujuh luka berat dan lima luka ringan tersebut. Apalagi Komisi IV yang ditempatinya mencakup bidang lingkungan hidup dan kehutanan dengan mitra kerja Kementerian LHK (Lingkungan Hidup dan Kehutanan).

’’Kami berencana memanggil Kementerian Lingkungan Hidup untuk mempertanyakan apa yang sebenarnya penyebab terjadinya longsor di Pangalengan,’’ kata Yadi kepada wartawan saat pelaksanaan reses di Gedung DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung kemarin.

Yadi menambahkan masyarakat membutuhkan penjelasan seutuhnya dari Kementerian LHK yang menjadi penyebab longsor. “Misalnya saja sampai saat ini kan masyarakat masih banyak yang mempertanyakan apakah longsor itu terjadi akibat ledakan pipa panas bumi milik Star Energy ataukah karena memang faktor alam atau faktor lingkungan setempat. Apakah memang akibat kerusakan lingkungan atau karena pembangunan yang tidak sesuai dengan aturan, itu harus diselidiki,’’ papar Yadi. ’’Harus segera ditangani supaya tidak menimbulkan persoalan yang semakin besar terutama bagi masyarakat yang terkena imbasnya,’’ ujarnya

Yadi menilai, kawasan Bandung Selatan terutama Pangalengan tergolong daerah rawan longsor. Kondisi ini perlu menjadi perhatian seluruh pihak.

”Kita meminta pembangunan di kawasan tersebut harus melalui kajian mendalam meliputi berbagai aspek. Kajian ini punya tujuan penting agar dibuat upaya antisipasi jika terjadi bencana,” tandasnya.

Pihaknya menganggap kawasan terjadinya longsor mesti menjadi kawasan lindung (konservasi). Dengan demikian maka setiap aktivitas di kawasan tersebut mesti sejalan dengan upaya pelestarian lingkungan. (yul/rie

Korban Belum Ditemukan

  1. Ayi, 45, warga Kampung Mekar Madani (sedang mancing)
  2. Asep Juju, 65, warga Rancamanyar (sedang menyabit rumput)
  3. Wiwi, 35, warga Kampung Cibitung (sedang di rumah)
  4. Dedeh, 45, warga Kampung Cibitung (sedang di rumah)