Selain itu, memasuki Tahun Ajaran baru, terjadi kenaikan pada sejumlah barang terkait yakni tarif sekolah taman kanak-kanak dan bimbingan belajar.Di sisi lain, sub kelompok traded – construction mengalami deflasi sebesar -0,11persen (mtm) sejalan dengan harga komoditas semen dan besi beton yang mengalami deflasi masing-masing sebesar -0,62 persen (mtm) dan -1,55 persen (mtm). Hal ini lebih disebabkan oleh efek seasonal di mana kegiatan konstruksi cenderung terbatas selama momentum liburan yang berlangsung cukup panjang pada bulan Juli ini.
Pada kelompok administered prices, terjadi kenaikan tekanan inflasi bulanan dari 0,45 persen di bulan Juni menjadi 1,43 persen di bulan Juli. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh kelompok non-energi yang mengalami inflasi bulanan sebesar 2,01persen, yakni melalui komoditas angkutan antar kota (17,64 persen mtm). Tekanan terutama bersumber dari tarif angkutan seiring dengan kenaikan yang terjadi pasca Lebaran lalu.
Musim libur yang relatif panjang akibat libur Lebaran yang berbarengan dengan libur sekolah menyebabkan periode mudik yang juga cukup panjang. Sehingga tarif angkutan yang tinggi masih dirasakan bahkan hingga akhir bulan. Adapun kenaikan tarif angkutan antar kota ini khususnya terjadi pada kelas non-ekonomi. Dari kelompok energi, kenaikan tarif listrik pada bulan Juli 2016 pada kisaran Rp33-Rp48/kWh juga turut menyumbang kenaikan tekanan harga dari kelompok administered prices.
Berdasarkan kota perhitungan inflasi, sebanyak tujuh kota di Jawa Barat mengalami inflasi. Adapun inflasi tertinggi terjadi di Kota Sukabumi sebesar 0,93 persen (mtm) sedangkan inflasi terendah terjadi di Kota Cirebon 0,24 persen (mtm). Komoditas bayam, kentang, dan petai menjadi penyumbang inflasi utama di Kota Bekasi. Sementara itu, penurunan harga komoditas tomat sayur, telur ayam ras, dan kacang panjang menjadi pendorong deflasi di Kota Cirebon.

