Sebagai dampak La Nina, kata dia, curah hujan pada musim kemarau kali ini cenderung di atas normal sehingga digolongkan menjadi kemarau basah. Sebagai akibatnya, sejumlah tanaman khususnya hortikultura seperti bawang merah dan cabai menjadi rentan busuk dan terkana penyakit. Sebagai contoh, produksi bawang merah di Brebes yang merupakan sentra produksi pada masa panen Juli 2016 ini menurun 50 persen akibat terendam banjir.
Berlanjutnya kenaikan harga komoditas kentang disebabkan oleh semakin terbatasnya pasokan. Hal ini salah satunya disebabkan karena petani di sejumlah sentra memilih melakukan panen dini menjelang bulan Ramadan lalu. Adapun pada komoditas beras, tengah berlangsungnya masa tanam menjadi penyebab kenaikan harga walaupun hal ini umum terjadi secara seasonal.
”Curah hujan yang cukup tinggi pada musim kemarau dan musim tanam kali ini diperkirakan dapat meningkatkan produksi beras pada musim panen berikutnya. Di tengah gejolak harga sejumlah komoditas utama, terdapat beberapa komoditas pangan utama lainnya yang mengalami penurunan harga antara lain tomat sayur, telur ayam ras, jengkol, ketimun, wortel, jagung manis, dan beberapa jenis komoditas sayuran lainnya,” ucapnya.
Penurunan harga komoditas telur ayam ras yang selama dua bulan sebelumnya mencatatkan inflasi tinggi salah satunya disebabkan oleh menurunnya permintaan masyarakat khususnya untuk pembuatan kue yang umumnya dilakukan sebelum Lebaran.
Pada kelompok core, terjadi penurunan tekanan inflasi bulanan dari 0,19 persen di bulan Juni menjadi 0,14 persen di bulan Juli. Sub kelompok coret raded – food related masih menjadi penyumbang utama tekanan inflasi yakni sebesar 0,24 persen (mtm). Adapun komoditas food related yang menjadi penyumbang utama inflasi adalah gula pasir dan kue kering berminyak sebagai efek dari momentum Lebaran.

