
RUMAH AMAN: Sejumlah warga Cibitung, Pangalengan korban longsor tinggal di rumah penduduk yang lokasinya tidak jauh dari rumah asal.
darikita.com, PANGALENGAN – PTPN VIII merekomendasi empat tempat tujuan relokasi bagi korban longsor Pangalengan. Yakni, Cikakapa, Cibereum, Cinyirua, dan Munjul. Meski sebenarnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung masih mencari lokasi yang benar-benar aman.
Kemarin (12/5), kata Kepala BPBD Kabupaten Bandung Marlan, Tim Geologi turun meninjau empat lokasi itu. Cikakapa menjadi pertama yang didatangi. ’’Kalau memungkinkan, maka warga akan direlokasi ke sana (Cikakapa),’’ ujar dia.
Marlan mengatakan, jika area Cikakapa dinilai aman, maka tidak akan terlalu sulit memindahkan para korban yang tinggal di Kampung Cibitung, Desa Margamukti, Pangalengan tersebut. Di samping memang, jaraknya tidak terlalu jauh dari lokasi longsor. Hanya sekitar 1,5 jam. Sedangkan untuk lokasi yang di Cibeureum, rumahnya sudah ada tapi berbeda desa. Sama halnya dengan Cinyiruan dan Munjul. ’’Katanya para korban maunya tetap di satu desa. Makanya kita fokus dulu di Cikakapa itu,’’ kata Marlan.
Terkait dengan proses pencarian korban yang masih tertimbun, sesuai hasil kesepakatan antara BPBD dengan Bupati Bandung Dadang M. Naser, waktunya diperpanjang hingga tujuh hari ke depan. Area pencarian pun diperluas. Sebab, ada beberapa titik yang dicurigai sebagai tempat keberadaan para korban yang hingga saat ini belum ditemukan. Hal tersebut didasarkan pada informasi masyarakat. Baik keluarga ataupun tetangga korban. Serta, dari tim setelah turun ke lapangan menggunakan anjing pelacak.
Menurut Marlan, di hari ke delapan pencarian, walau areanya diperluas, tapi personel bantuan dan juga penggunaan alat berat mulai dikurangi. Jika hari sebelumnya menggunakan tujuh alat berat, kemarin hanya ada enam ekskavator yang diturunkan. ’’Buldozer sudah kita tarik karena memang penggunaannya sudah tidak efektif,’’ ujarnya.
Selain penggunaan alat berat yang dikurangi, sebagian personel tim evakuasi mulai ditarik. Seperti pasukan dari polisi dan TNI. Sebab, pada saat yang bersamaan mereka memiliki kegiatan yang harus diamankan. Dengan begitu, sebagian anggota harus bertugas di tempat lain. ’’Seperti dari Brimob, mereka harus ditarik sebagian karena mengamankan pertandingan di Si Jalak Harupat dan juga ada unjuk rasa di Kejaksaan,’’ jelasnya.
Namun demikian, lanjut Marlan, semua kegiatan di sekitar area pencarian masih berjalan kondusif, karena tersisa sekitar 50 anggota polisi dan 75 anggota TNI. ’’Jumlah tersebut masih cukup untuk mem-back-up, yang penting alat berat juga masih bekerja optimal,’’ terang dia.
Marlan juga menambahkan, kondisi di area terdampak longsor sudah tidak memungkinkan dilakukan pengerukan manual. Sebab, kedalamannya sudah mencapai 5–7 meter. ’’Jadi tetap harus dilakukan menggunakan alat, dan dengan personel yang sedikit. Saya berharap semua tetap efektif,’’ ungkap dia.
Sementara itu, sejumlah warga korban gempa Walatra, Pangalengan dan Rawabogo, Ciwidey sudah bertahun-tahun belum juga dieksekusi dan direlokasi. Padahal, mereka berharap kepada pemerintah segera melakukannya. ’’Kami sering mengawal bencana yang terjadi di Kabupaten Bandung. Terutama di wilayah Kabupaten Bandung Selatan,’’ ujar Juandi, warga Peduli Lingkungan Baraya Bandung Selasa (12/5).
Menurut Juandi, persoalan Kabupaten Bandung memang sangat kompleks. Namun, semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Tinggal pemerintah sigap dalam mencermati. ’’Dan merealisasikan keinginan masyarakat. Harus serius,’’ ujarnya.
Dia menyebut, dua titik bencana lama yang belum dieksekusi relokasi. Yakni, pengungsi gempa yang sudah bertahun tahun tinggal di Walatra, Pangalengan dan di Rawabogo, Ciwidey. ’’Jangan sampai yang di Cibitung nasibnya sama. Seperti warga Pangalengan dan Ciwidey,’’ pintanya.
Daerah rawan bencana lain yang perlu diperhatikan, tambah dia, seperti di Rancabali, Pasirjambu, Kertasari dan Pacet. ’’Ini harus dipikirkan bersama. Tidak hanya tanggung jawab pemerintah, tapi tanggung jawab kita semua. Termasuk di dalamnya masyarakat yang peduli, pengusaha juga,’’ ucap dia.
Terpisah, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif mengatakan, bencana longsor di Pangalengan, Kabupaten Bandung pada Selasa lalu (5/5) mirip longsor di Tenjolaya, Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung pada 23 Februari 2010. Keduanya terjadi di perkebunan teh yang menimbun rumah pekerja kebun teh.
Hujan, kata dia, menyebabkan retakan di punggung bukit. Kemudian, longsor meluncur ke bawah menghantam permukiman sejauh sekitar 1,2 kilometer. Dengan lebar timbunan longsor 300 meter dan tebal empat meter.
Syamsul menjelaskan, jenis tanah di Pangalengan dengan Tenjolaya sama, yaitu vulkanik dengan solum tebal. Telah lapukan dan di bagian bawah kontak dengan lapisan batuan dasar sebagai gelincir longsor. Bedanya longsor Pangalengan disertai ledakan pipa panas bumi. Sedangkan Ciwidey, tidak ada kaitannya dengan pipa panas bumi.
Jumlah korban longsor Ciwidey 33 orang tewas. Sebelas orang tertimbun, dua orang terluka dan 200 orang pengungsi. Sedangkan longsor di Pangalengan hingga Selasa (12/5), tujuh orang tewas, dua masih tertimbun, enam luka berat, tujuh luka ringan dan 170 orang pengungsi.
Karena itu, Syamsul menyampaikan, sekitar 50 persen wilayah di Jawa Barat adalah rawan longsor tinggi. Masyarakat yang tinggal di daerah itu harus dilatih melalui pembentukan kelompok siaga bencana. Sebanyak 32 unit rumah di Kampung Cibitung, Pangalengan yang saat ini terkena longsor, harus direlokasi ke tempat yang aman.
Pemerintah daerah, kata dia, perlu mereviw rencana tata ruang wilayahnya. Dunia usaha seperti, PT Star Energy dan PTPN VIII juga harus melakukan mitigasi bencana. ’’Dengan memasang pendeteksi dini longsor dan melakukan mitigasi bencana,’’ ucap dia. (mg15/aku/yul/hen)

