banner 728x250

Perlu Banyak Aplikasi EWS

SERAP ASPIRASI: Calon Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (kanan) saat mendengarkan aspirasi prihal penanganan Citarum.

Majalaya – Penanganan bencana di cekungan Bandung tidak lepas dari pengamatan kandidat gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Pria yang akrab disapa Kang Emil itu menilai, informasi penanganan bencana perlu disebar ke masyarakat luas.

”Penanganan bencana masih kepada bagi-bagi bantuan dan evakuasi saja. Padahal, Early Warning System (EWS) ini dapat menyelamatkan ribuan warga,” kata Denni Hamdani, Penasihat Yayasan Jaga Balai di Bale Rancage Jaga Balai saat berdiskusi dengan Ridwan Kamil di Jalan Cipaku, Majalaya Kabupaten Bandung, kemarin (28/3).

Menurut Denni, dalam penanganan bencana, pemerintah belum punya renkon (rencana kontijensi) dan renops (rencana operasi) tanggap darurat. ”Selama ini malah kita yang bikin secara swadaya ke titik-titik rawan,” kata dia.

Menurut dia, Yayasan Rancage  yang berdiri sejak 2014, memiliki 18 alat pencegahan bencana berbentuk Automatic Weather Station (AWL) dan Automatic Water Level Recorder (AWLR). Kedua alat tersebut dipasang di titik-titik rawan untuk memantau awan dan tinggi muka air.

Peralatan yang dibuat atas  kerjasama antara Institute Teknologi Bandung (ITB) dan Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat ini dalam keadaan siaga. Alat-alat tersebut memberikan informasi berharga kepada pusat komando Jaga Balai, yang memberikan informasi tindakan apa yang harus dilakukan dalam rencana kontijensi dan rencana operasi tanggap daruratnya.

Menanggapi hal tersebut, Ridwan Kamil mengusulkan agar dibuat sistem peringatan dini melalui aplikasi yang bisa disebar ke seluruh masyarakat rawan terdampak bencana.

”Saya  mengusulkan ada aplikasi  yang memonitor tentang air di Cekungan Bandung. Setiap ada  informasi kenaikan permukaan air dapat diinformasikan melalui hp-nya masing-masing, sehingga warga bisa berinisiatif menyelamatkan diri dan harta bendanya lebih dini,” ujar Wali Kota Bandung yang meraih 310 penghargaan ini.

Menurut  Wali Kota Terbaik 2017 versi  Kemendagri ini, untuk mengantisipasi bencana banjir harus dibangun danau resapan di daerah-daerah hulu agar air tidak langsung turun hilir atau  daerah yang lebih rendah. ”Danau-danau kecil harus dihidupkan lagi di desa-desa. Sehingga saat air mengalir bisa di parkir dulu, ” tukasnya.

Apa yang sudah diupayakan oleh Jaga Balai di Majalaya, kata Emil, tinggal  disempurnakan dan diadaptasi di wilayah Cekungan Bandung lainnya di Jabar.  ”Cara ini nanti diduplikasi di seluruh wilayah cekungan Bandung. Ihtiar yang saya lakukan adalah memastikan Perpres pengelolaan cekungan Bandung harus turun sehingga bisa mengatur  masalah kebencanaan secara taktis,” kata Paslon Gubernur Jabar nomor urut satu ini.

Sebelumnya, Warga Desa Ciwalengke, Majalaya, Kabupaten Bandung mengeluhkan pencemaran air yang terjadi di wilayahnya kepada kandidat Gubernur Jabar Ridwan Kamil yang berkunjung ke desanya. Menurut warga pencemaran air itu terjadi sejak komplek industri dibangun tahun 1980-an silam.

”Kami kesulitan mendapat air bersih. Saat kemarau kami kesulitan air, karena air kotor tercemar limbah pabrik, saat musim hujan limbah celupan pabrik merembes masuk ke sumur-sumur warga,” kata Iim, 50.

Tak hanya itu kata dia, air sumur pun sering kali berubah warna, kadang merah atau hitam. “Tapi mau gimana lagi ya kita pakai aja karena enggak ada air lagi,” ujar Iim yang ditemui di rumahnya.

Menurut dia, air yang tercemar itu hanya digunakan untuk kebutuhan cuci dan mandi. Sedangkan untuk kebutuhan memasak dan konsumsi, masyarakat harus beli air galon isi ulang.

Air yang tercemar dan biasa dipakai mandi dan mencuci pekakas  selama bertahun-tahun itu menyebabkan berbagai macam penyakit. ”Paling banyak  warga sakit ISPA dan gatal-gatal. Ada juga yang sampai diare,” ucap dia.

Menanggapi keluhan warga, calon Gubernur Jawa Barat nomor urut 1 Ridwan Kamil mengatakan, solusi sementara adalah  perlunya penyaringan air. Yakni permunian air secara berulang-ulang agar kondisi air menjadi lebih baik.

”Salah satu gagasan saya ada instalasi penyariangan air. Air itu pada dasarnya bisa dimurnikan, tetapi tanpa sistem penyaringan  teknologis, air itu bercampur dengan bakteri. Maka harus dipastikan di awal ada sistem irigasi yang bisa difilter dengan teknologi membran dan didistribusi ke rumah-rumah ketika sudah bersih,” tuturnya.

Emil pun menambahkan, gagasan lain adalah perpanjangan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) ke rumah warga. Jika tidak memungkinkan akan dicoba sistem artesis yang terjangkau. ”Tapi apapun itu, kami akan cari solusi dan inovasi dengan filtrasi air tadi,” tandasnya.

Khusus untuk  pabrik yang masih membuang limbah langsung ke Sungai, menurut Kang Emil harus ada penegakan hokum yang tegas. Diakuinya selama ini hukum lingkungan telah jelas. Sehingga penegakannya seringkali diabaikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *