banner 728x250

Kelompok Teroris Ditangkap di Empat Lokasi Berbeda, Target Beraksi Akhir Tahun

ANDREAN KRISTIANTO/JAWA POS AMANKAN TKP: Petugas brimob menjaga tempat kejadian perkara (TKP) penggerebekan dan penembakan terduga teroris di Setu, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (21/12). Keempat terduga teroris yang berhasil dilumpuhkan kepolisian, diketahui akan melakukan penyerangan terhadap pos polisi di Serpong pada Natal dan Tahun Baru.

Kenapa penggerebekan dan penangkapan terduga teroris terjadi bersamaan? Kabag Penerangan Umum (Penum) Divhumas Mabes Polri Kombes Martinus Sitompul mengatakan, semua itu merupakan momentum. Menurutnya, upaya tersebut tidak dilakukan secara tiba-tiba. Tim Densus lebih dulu melakukan penyelidikan. ”Ada yang sebulan, dua bulan, bahkan sampai satu tahun, yang setahun ini biasanya karena (pelaku) menghilang,” ucapnya.

Dia menjelaskan, lama atau cepatnya pengungkapan kasus terorisme tergantung alat bukti dan keterangan yang diperoleh. Bila polisi mendapatkan keterangan akan dilakukan pengawasan dan pengincaran secara intensif terhadap terduga teroris berdasar informasi itu. ”Penangkapan yang banyak seperti ini adalah momentum, jangan sampai lepas momentum itu,” ucapnya.

Di tempat terpisah, Ketua Komisi III DPR Bambang Soesatyo memberikan apresiasi tinggi kepada Polri, yang kembali berhasil mengungkap dan menemukan bom aktif dan menangkap terguda teroris. Namun, hal ini tidak boleh membuat semua pihak berpuas diri. Saat ini ketahanan nasional akan menghadapi ujian maha berat jika rencana ISIS membangun basis di Asia Tenggara tidak segera ditangkal.

”Beberapa indikasi sudah terlihat di permukaan. Untuk memperkecil atau melumpuhkan potensi ancaman itu, perlakuan hukum terhadap para terduga dan tersangka teroris harus ekstra tegas,” kata Bambang, kemarin.

Bambang menyebut, selain kasus terakhir, publik tentu masih ingat temuan bom aktif oleh Densus 88 di Bekasi. Mungkin, kasus ini bisa dilihat sebagai indikasi pertama. Kasus ini menjadi bukti bahwa sel-sel terorisme di dalam negeri masih sangat aktif, dan terus mencari ruang untuk merusak ketahanan nasional. ”Luar biasa karena mereka sudah berani mengincar Istana Negara sebagai target serangan,” ujar Ketua DPP Partai Golkar itu.

Indikasi kedua adalah pernyataan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo  dan Presiden Filipina Rodrigo Duterte. Berbicara di forum seminar Preventive Justice dalam Antisipasi Perkembangan Ancaman Terorisme pada Selasa (6/12) lalu, Gatot mengingatkan bahaya terorisme yang jaraknya semakin dekat ke Indonesia, karena kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) telah memilih dan membangun kawasan Filipina Selatan sebagai home base di Asia Tenggara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *