banner 728x250

FOBI Meriahkan Cap Go Meh

HOLILULLAH KOMPAK: Wakil Ketua Umum KONI Jawa Barat Irwan K. Koesdrajat, pengrus FOBI Jawa Barat dan grup Barongsai Long Qing Bandung usai pentas kemarin kemarin di Bandung (28/2).

Daribandung.com,  – Pengurus Federasi Barongsai Indonesia (FOBI) Jawa Barat terus menyosialisasikan kesenian asal Tiongkok Barongsai kepada masyarakat Indonesia. Ketua FOBI Jabar Djoony Andhella mengatakan, pihaknya menggelar pertunjukan Barongsai dalam memeriahkan Cap Go Meh.

Menurut dia, sosialisasi Barongsai harus terus ditingkatkan. Apalagi, FOBI resemi menjadi bagian dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) pada 11 Juni 2013 lalu.

”Dalam susunan Pengurus Besar FOBI yang pertama ini, nama Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan tercantum sebagai Ketua Umum FOBI,” kata Djoony kepada Bandung Ekspres kemarin (28/2).

Dia mengatakan, Dahlan Iskan bukanlah orang baru di arena pertunjukan Barongsai. Dia sudah sejak lama mencintai Barongsai. Sejak tahun 1999, Dahlan Iskan sudah menjadi Ketua Umum Persatuan Seni dan Olahraga Barongsai Indonesia (Persobarin). Dahlan pun pernah bercerita, di mana dia selama 10 tahun lebih selalu berjuang agar olahraga Barongsai bisa masuk KONI, namun selalu ditolak dengan alasan karena banyaknya organisasi-organisasi Barongsai yang sebelumnya sudah lebih dulu ada eksis di Indonesia.

Atas perjuangan Dahlan dan rekan-rekan, akhirnya organisasi-organisasi itu bisa bersatu di bawah naungan FOBI, sekaligus mengakhiri mimpi selama bertahun-tahun bagi Indonesia untuk memiliki sebuah federasi olahraga Barongsai.

”Barongsai sebagai tarian tradisional China dengan menggunakan sarung yang menyerupai singa. Barongsai memiliki sejarah ribuan tahun. Catatan pertama tentang tarian ini bisa ditelusuri pada masa Dinasti Chin sekitar abad ketiga sebelum masehi,” katanya.

Kesenian Barongsai mulai populer di zaman dinasti Selatan-Utara (Nan Bei) tahun 420-589 Masehi. Kala itu pasukan dari raja Song Wen Di kewalahan menghadapi serangan pasukan gajah raja Fan Yang dari negeri Lin Yi. Seorang panglima perang bernama Zhong Que membuat tiruan boneka singa untuk mengusir pasukan raja Fan itu. Ternyata upaya itu sukses hingga akhirnya tarian barongsai melegenda.

Secara tradisional, orang China menggunakan barongsai sebagai simbol pembawa kesuksesan dan keberuntungan. Barongsai digunakan pada acara-acara perayaan seperti Tahun Baru Imlek dan pada acara-acara seremoni seperti pembukaan tempat usaha baru. Barongsai juga dipercaya dapat ”membersihkan” suatu tempat dari hal-hal negatif. Dalam Feng Shui, Barongsai memiliki beberapa arti yang dapat dapat membuat tempat menjadi lebih bagus.

”Acara Barongsai ini untuk memeriahkan tahun baru Imlek sesuai tradisi kami untuk memohon berkah kepada tuhan. Agar Negara Republik Indonesia selalu dalam keadaan aman, damai, maju, dan sejahtera,” harapnya.

Untuk saat ini, di Jawa Barat, atlet-atlet olahraga Barongsai sudah dilatih untuk persiapan ekshibisi PON XIX yang akan dilaksankan 17-29 September 2016 .

”Sebagai tuan rumah, kita ingin menjadi yang terbaik. Meraih gelar juara umum, meski hanya dipertandingkan sebagai cabang olahraga ekshibisi,” ucapnya.

Di Indonesia, pertunjukan Barongsai sudah ada sejak zaman Hindia Belanda. Meski demikian, tak ada perubahan berarti yang terjadi pada kebudayaan Tiongkok itu.

FOBI bukan sekedar kesenian dan hiburan. Namun dibentuk seolah menandakan, bahwa Barongsai sudah siap menjadi bagian dari olahraga nasional. Hal ini dipandang positif, yang berarti Barongsai sudah diakui sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

”Barongsai bisa dikatakan sebagai olahraga karena memakai kekutan fisik, yaitu otot untuk menopang kepala boneka dan pemain,” pungkasnya. (a1/lil/fik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *