Rabu, 23 September 2026
Terkini
Area Bandung

Flu Burung Mewabah di Lima Daerah

helobandung29 Maret 20163 menit baca
Flu Burung Mewabah di Lima Daerah

Harga-Daging-Ayam-Terus-Melambung-100x70

daribandung.com, Sejumlah pedagang daging ayam di beberapa pasar tradisional di Kabupaten Sukabumi mengeluh merosotnya penjualan. Kondisi tersebut terjadi pascaberedarnya kabar wabah flu burung yang mengakibatkan ratusan unggas di empat kecamatan mati mendadak.

Suhaemin, 51, pedagang ayam potong di Pasar Cibadak Sukabumi. Dia mengaku sepi pembeli setelah mewabahnya penyebaran flu burung. Daging ayam segar jualannya pun masih terlihat menumpuk. Konsumen lebih memilih ikan asin, ikan laut, maupun daging lainnya.”Mungkin konsumen merasakan was-was. Akibatnya pembeli beralih ke ikan laut dan ikan air tawar,” cetus Suhaemin, kemarin (27/3).

Kendati harga ayam turun, Suhemin mengatakan, tetap saja tak menjamin tingkat penjualan seperti biasanya. Awalnya harga daging ayam per kilogramnya Rp 35 ribu, kini menjadi Rp 28 ribu per kilogram. Sebelum diterpa serangan virus flu burung, Suhaemin bisa menjual 300 sampai 400 ekor per hari. ”Turunnya hampir 50 persen. Sekarang paling tinggi 200 ekor. Itupun sudah terbilang bagus. Padahal, sebelum adanya flu burung per harinya bisa 300-400 ekor ayam lebih terjual,” katanya.

Suhaemin berharap pemerintah secepatnya turun tangan mengendalikan virus flu burung. Apabila kondisi penjualan seperti sekarang, Herman memperkirakan sebagian besar pedagang ayam akan gulung tikar.

Nia Nureni, 37, pedagang ayam lainnya, mengatakan saat ini dia hanya bisa menjual ayam sebanyak 50-100 ekor per hari. Hampir sebagian besar pembelinya merupakan langganan dari pengelola rumah makan dan mie ayam.

”Dagangan daging ayam saya saat ini menurun drastis. Biasanya bisa menjual sebanyak 50-100 ekor, tapi saat ini hanya 30 ekor juga sudah alhmdulillah,” cetusnya.

Sementara itu, masyarakat di Jawa Barat harus waspada karena virus flu burung menjangkit ribuan ternak unggas di 5 daerah di Jawa Barat, yakni Majalengka, Tasikmalaya, Indramayu, Purwakarta dan Kuningan. Virus H5N1 ini merebak karena pergantian musim.

Kepala Dinas Peternakan Jabar Dody Firman Nugraha mengatakan flu burung pertama kali muncul pada Januari di Majalengka dan Tasikmalaya. Kemudian kasus serupa juga terjadi di Indramayu dan Purwakarta pada Februari dan Kuningan pada awal Maret. ”Setelah diperiksa, ternyata unggas-unggas yang mati mendadak tersebut positif flu burung,” ujarnya kepada wartawan kemarin.

Dia menjelaskan hampir semua jenis unggas di 5 daerah terjangkit virus flu burung. Berdasarkan data per 23 Maret, 390 ekor ayam kampung, 9.125 ekor ayam petelur, 510 ekor ayam broiler, 359 ekor itik, 4.927 ekor puyuh, dan 161 ekor entog.

Melihat tingginya angka kematian unggas, pihaknya telah membuat surat edaran ke dinas peternakan di kabupaten/kota di Jabar untuk melakukan bio security dengan cara penyemprotan disinfektan pada kandang. Ini salah satu cara agar virus terisolir.

Menurutnya, kasus flu burung tahun ini terbilang langka karena biasanya hanya menjangkit ayam broiler namun kini juga menyentuh puyuh dan entog. Kedua jenis unggas tersebut terbilang tangguh terhadap penyakit maupun virus. ”Meski jenis H5N1, namun kami menduga virus ini telah bermutasi menjadi lebih kuat,” katanya.

Selain virus yang berubah, pihaknya juga menduga kualitas kesehatan ternak unggas melemah akibat kondisi cuaca ekstrem yang kerap berubah ubah.

Melihat kondisi tersebut, pihaknya mengimbau kepada para peternak untuk rutin memberikan vitamin kepada ternaknya agar punya daya tahan melawan virus. Para peternak juga diminta langsung memisahkan hewan yang masih sehat dengan hewan sakit.

Tidak hanya itu, para peternak juga diminta melakukan pemusnahan terhadap hewan yang terjangkit flu burung. Kandang yang terbukti menjadi tempat awal flu burung juga sebaiknya tidak digunakan kembali. Meski dengan cara ini membuat para peternak merugi, namun menjadi cara paling efektif.

Dinas Peternakan Jabar juga terus melakukan pengawasan secara ketat terhadap lalu lintas ternak unggas demi meminimalisir penyebaran flu burung. (udi/bbs/rie)