Kamis, 24 September 2026
Terkini
Area Bandung

Dari Bandung Menginspirasi Dunia

helobandung4 Juni 20187 menit baca
Ridwan Kamil

RIDWAN Kamil lahir pada 4 Oktober 1971 di Bandung dari pasangan Dr Atje Misbach SH (alm) dan Dra Tjutju Sukaesih. Ayahnya adalah doktor Fakultas Hukum Unpad, sementara ibunya dosen farmasi Unisba dan staff ahli LPPOM MUI Jabar.

Ridwan Kamil asli orang Sunda. Darah Sunda itu berasal dari kedua orangtuanya. Ayahnya asli Subang dan ibu dari Tasikmalaya dan kedua kakeknya yang berasal dari Situ Bagendit Garut.

Sejak kecil Ridwan Kamil hidup dengan sederhana. Sarapan dengan menu telor dadar yang dibagi rata dengan empat saudaranya. Naik angkot dari Dago ke SD Banjarsari di Jalan Merdeka.

Hidup sederhana layaknya masyarakat lain.

Ridwan kamil diasuh dengan nasehat untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang banyak. Moral dan etika juga menjadi nilai utama yang diajarkan ayahnya yang merupakan keturunan kiai Mu­hyidin yang dikenal Mama Pagelaran pendiri tiga pesan­tren di Sumedang dan Subang serta Pamannya KH Atang Abdul Quddus (alm), Imam Masjid Agung Subang serta ketua MUI Kabupaten Subang.

Ridwan Kamil sendiri pernah nyantri di pesantren pagela­ran III yang dipimpin oleh pamannya KH Oom Abdul Qoyyum (alm).

Membina Keluarga Bahagia

Ridwan Kamil beserta istri, Atalia Praratya, ditemani dua buah hatinya Laetetia dan Emmiril, tinggal di sebuah rumah yang unik hasil ran­cangannya sendiri. Ventilasi rumah ini terbuat dari tiga puluh ribu botol. Ridwan Ka­mil ingin membuktikan bahwa sampah bisa disulap men­jadi indah. Rumah tersebut berada di Cigadung tidak jauh dari rumah ibunya, sengaja demikian agar Ridwan Kamil bisa tetap berbakti pada ibu­nya sampai akhir hayat.

Meski kesibukannya sangat ketat, Ridwan kamil tak pernah kekurangan waktu untuk kelu­arga. Istrinya selalu men­dampingi saat susah maupun senang, memberikan nasihat dan semangat. Bagi Ridwan Kamil, kebahagiaan hidup bermula dari kebahagiaan di rumah.

Mencari Ilmu hingga Ame­rika

Sebagai pituin Bandung Rid­wan Kamil menempuh pendi­dikan dasar hingga kuliah di kota Bandung. Pendidikan Ridwan Kamill dimulai dengan belajar membaca, berhitung, dan bermain di TK Aisyiah Jalan Dago Barat Bandung. Kemudian selama 6 tahun Rid­wan Kamil sekolah di SD Banjar­sari III Jalan Merdeka Bandung. Pada masa-masa ini tak jarang Ridwan Kamil berjalan kaki dari Dago Timur ke jalan Mer­deka. Sejuk dan asrinya jalan Haji Juanda saat itu membuat jarak Dago Timur-Merdeka serasa dekat.

SMPN 2 Bandung di Jalan Sumatra adalah tempat Ridwan Kamil memulai berorganisasi. Selain belajar, dia aktif di OSIS dan Pramuka. Kegiatan ini tidak menghalanginya untuk men­jadi bintang kelas, justru mem­berikan pengalaman dan peng­etahuan yang menjadi bekal jiwa kepemimpinannya ketika dewasa.

Pendidikan berlanjut di SMA 3 Bandung. Masa remajanya diisi dengan berbagai kegia­tan olahraga, aktif di Paskibra. Ridwan Kamil selalu memo­tivasi dirinya untuk terus berprestasi. Dia menantang teman-temannya untuk ber­saing menjadi yang terbaik di Sekolah. Dia pernah menan­tang temannya, siapa yang mendapat rangking satu akan diberi cakue. Ridwan Kamil menjadi langganan mendapat hadiah cakue dan akhirnya memakan cakue itu bersama-sama dengan temannya.

Ridwan Kamil kuliah di ITB jurusan arsitektur. Saat tugas akhir, sang ayah wafat. Itulah tahun terberat dalam sejarah hidupnya. Berkat tekad yang kuat dan kemampuannya memotivasi diri sendiri, dia dengan nilai A++. Setelah lulus, sempat beberapa tahun mengajar di almamaternya, sebelum akhinrya melanjut­kan kuliah S2 di University of California, Amerika, dalam bidang tatakota, tahun 1999 sampai tahun 2001.

Pendidik dan Pengusaha

Selepas menuntaskan pen­didikannya di Amerika, Rid­wan Kamil bekerja di firma arsitektur di Amerikan Hong­kong. Di Amerika, Ridwan kamil meraih kehidupan yang layak. Tapi sang ibu menasi­hati, “Ari neangan duitmah engke aya gantina, ari min­terkeun batur tidak akan terukur nilaina” (kalau men­cari uang itu nanti bisa ada gantinya, kalau memintarkan oranglain tidak terukur nilai­nya). Karena nasihat itu Rid­wan Kamil memutuskan untuk pulang ke kampung halaman, Bandung. Ridwan Kamil kembali ke almama­ternya menjadi dosen di uru­san arsitektur ITB sebagai dosen. Bersama mahasiswa dari Rancang Kota, Desain Produk, dan Elektro ITB, Rid­wan Kamil melahirkan Ener­bike sebuah rancangan se­peda penghasil listrik.

Bersamaan dengan itu, Rid­wan Kamil mendirikan firma arsitektur Urbane, singkatan dari Urban Evolution. Urbane juga bisa dibilang singkatan dari Urang Bandung Euy. Melalui perusahannya ini, Ridwan Kamil menggarap berbagai proyek di Indonesia, dan mancanegara. Konsep arsitektur yang mengedepan­kan ”green system”, responsif terhadap lingkungan, serta nilai artistik, menjadikan Ur­bane sebagai satu dari sepu­luh firma arsitektur terbaik di Indonesia.

Membangun Kota Bersama

Hidup adalah udunan (kola­borasi), Ridwan kamil meme­gang teguh filosofi ini. Banyak permasalahan publik bisa terpecahkan oleh jurus jitu kolaborasi ini. Percaya bahwa kota di masa depan harus di­bangun dengan konsep baba­rengan, Ridwan Kamil mendi­rikan banyak komunitas sosial di masyarakat seperti Bandung Creative City Forum (BCCF), gerakan Indonesia Berkebun, Bandung Citizen Journal, Kon­sep One Village One Playground dll. Intinya, Semua permasa­lahan yang ada di masyarakat bisa diatasi dengan kerja sama dan gotong royong.

Ridwan Kamil mencontoh­kan tentang terlantarnya 300 taman kota di Bandung ka­rena alasan tak adanya dana. Ketika taman kota terlantar ini diumumkan pada warga dan komunitas kota, ternyata ada 300 komunitas yang siap mengadopsi dan memeli­hara taman tersebut. Bahkan setiap taman bisa diberi tema sesuai dengan komunitas yang memeliharanya. Solusi yang begitu sederhana.

Karya dan penghargaan Mendunia

Melalui firma arsitektur Ur­bane, karya ridwan kamil terse­bar di berbagai daerah Indone­sia dan mancanegara. Dari masjid yang terbuat dari batako yang terbuat dari abu letusan gunung merapi, Museum Tsu­nami di Aceh, Sekolah antigem­pa di Pangalengan Bandung, kawasan elit di Kuningan ja­karta, superblok di Cina, ran­cangan kawasan di Syiria.

Tak kurang dari dua puluh penghargaan yang berkaitan dengan karya arsitektur dan tata kota dia raih. Rancangan masjid Al-Irsyad yang ia per­sembahkan untuk almarhum ayahnya, diganjar Top 5 best Building of The year 2010 oleh ArchDaily, dan menjadi satu dari 25 masjid terindah di dunia versi Complex Maga­zine.

Mengabdikan Diri untuk Sesama

Kini, Ridwan Kamil merasa Tuhan telah memberi segala yang dia impikan. Keluarga yang sehat dan bahagia; seo­rang istri yang cantik dan setia, putra dan putri peng­hibur hati. Lengkap sudah. Pendidikan tinggi dari luar negeri dia bagi kepada ma­hasiswanya di ITB. Itu ke­puasan tersendiri. Perusa­haan arsitekturnya menjadi satu dari 10 firma paling ber­pengaruh di nusantara. Proy­ek-proyeknya bukan hanya dari Indonesia, tapi menyebar dari Asia, Arab hingga Ame­rika. Lalu mau apalagi?

Ridwan Kamil teringat pesan almarhum ayahnya. Dunia ini perlu orang pintar dan peduli. Pintar saja tak akan berarti apa-apa. Peduli tanpa ilmu mungkin akan menjadi sia-sia. Dia juga teringat pesan ibunya, ”Jangan menolong orang lain sebelum menolong diri sendiri” Meski­pun tidak tergolong kaya raya, Ridwan Kamil merasa bahwa dia telah cukup untuk dirinya sendiri. Inilah saatnya menolong orang lain.

Saat memulai berbagai aktivi­tas sosial dan aktif di komunitas, Ridwan Kamil mulai ”mewakaf­kan” 25 persen waktunya. Porsi itu dia terus tingkatkan, dan sama sekali tidak menurunkan produktivitas kerja profesional­nya di dunia pendidikan dan kewirausahaan.

Dari langkah kecil itulah, dari tangan Ridwan Kamil bersama komunitas yang ter­gabung di Bandung Creative City Forum, lahir berbagai karya sosial seperti Indonesia Berkebun, Bike Sharing, Urban Citizen Journalism. Ridwan kamil juga mencari dana dan membeli sepetak tanah untuk dijadikan taman bermain untuk anak-anak di pemuki­man padat di Kota Bandung.

Kerja kreatifnya untuk kota Bandung semakin intensif dan meluas meliputi isu-isu ke­masyarakatan yang dialami kaum miskin perkotaan. Hal ini dilatarbelakangi oleh te­guran kecil dari seorang nenek, ”Jang, kreatif teh kudu karasa ku kabehan atuh,” (Dek, kratif itu harus menyentuh semua kalangan dong)

Dari sana Ridwan Kamil mulai menggarap sejumlah kerja-kerja sosial kreatif untuk memecahkan permasalahan nyata warga kota seperti ban­jir sampah, dan miskinnya ruang publik di kawasan ku­muh kota. Salah satu proyek monumentalnya adalah proy­eknya di Blok Tempe. Ber­sama komunits kreatif bandung dan masyarakat setempat kini warga berhasil menang­gulangi masalah banjir sam­pah, dan mengelola sistem asuransi kesehatan.

Menjelajahi 100 Kota Dunia

Ridwan kamil berasal dari Bandung tapi menginspirasi orang yang berada jauh di sana, di Amerika. Pada bulan Maret, Ridwan Kamil menjadi satu dari dua orang (yang satunya adalah Wali Kota Barcelona ) yang mendapat penghargaan ”Urban Leadership Award” dari Universitas Pennsylvania. Orang Amerika terinspirasi oleh kerja kreatif Ridwan Kamil membangun kota dengan meng­gerakkan partisipasi komunitas dan warga. Penghargaan ini melengkapi 35 penghargaan lain yang dia raih dalam sem­bilan tahun terakhir.

Ridwan Kamil sudah men­jelajahi 100 Kota dunia. Menga­mati, mempelajari bagai­mana manusia di berbagai belahan dunia membangun peradaban, merancang dan memelihara kota. Bahkan Ridwan Kamil terlibat dalam menata ulang sejumlah kota di Indonesia dan mancane­gara. Karya-karyanya telah dihargai dunia.