daribandung.com, JUMAT malam (12/2) lalu, Netty memberi kesempatan penulis berbincang santai di Pakuan, rumah jabatan Gubernur Jawa Barat. Jangan dibayangkan waktu yang didapat masuk kategori santai pula ya. Misal, saat sore hari sambil minum teh di teras rumah. Waktunya kali ini pukul 21.30 WIB. Dari rencana semula menerima pukul 20.30. Perubahan jadwal itu terjadi karena Netty harus memenuhi dulu undangan Duta Besar Uni Eropa yang tengah berkunjung ke Gedung Sate, Pemprov Jabar selepas Magrib.
’’Tidak apa-apa malam juga. Saya biasa nemenin Bapak (Aher -sapaan Ahmad Heryawan-) kalau lagi belajar bisa sampai jam satu (dini hari),’’ selorohnya yang malam itu mengenakan busana serba hijau.
Sebelum mulai berbincang dirinya memohon maaf telah membuat menunggu. Sebab, begitu tiba di Pakuan, masih harus lebih dulu mengurusi dua anak asuhnya. Seorang berumur setahun, seorang lagi dua tahun. Keduanya adalah korban. Sebagai anak yang ditinggalkan begitu saja oleh orang tuanya di sebuah tempat. ’’Jadi serasa punya anak kecil lagi. Maaf ya,’’ ucap Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Barat ini.
Berbicara dunia anak di mata Netty, tantangan untuk menjauhkan dari kekerasan baik fisik, psikis, maupun seksual kian serius. Hal itu bisa saja terjadi karena banyak hal. Salah satunya adalah terjadinya perubahan pola pengasuhan orang tua. Belakangan, terlihat dari semakin akrab pengaruh buruk gadget dan televisi dengan anak, sebagai pengalih pemberi perhatian dari orang tua. Jika ini tidak dikontrol dengan baik dan bijak, maka anak sangat mudah menyerap dampak negatifnya.
Menurut Doktor Ilmu Pemerintahan lulusan Universitas Padjadjaran ini, banyaknya kasus kekerasan seksual terhadap anak membuktikan peluang untuk terjadinya perbuatan melanggar hukum itu selalu ada. Karena itu, dirinya yang juga Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Jawa Barat terus gencar mengampanyekan pencegahannya dalam berbagai kesempatan.
’’Coba kita lihat kasus kekerasan terhadap anak, rasanya menjadi buah bibir kan. Kita berusaha imbangi dengan kampanye pencegahannya,’’ terang perempuan penerima penghargaan Local Heroes, dalam bidang anti perdagangan manusia dari Kedubes Amerika Serikat ini.
Tantangan pencegahan semakin menjadi, merespons pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2016. Berbicara tentang MEA yang terdampak bukan saja arus barang, tapi manusia. Artinya, bagi Netty, bukan saja tentang tentang ekonomi melainkan budaya dan kemanusiaan. Jika tidak diantisipasi dampak negatifnya, juga bakal bisa berakibat serius.
Betapa tidak, berdasarkan data yang dimilikinya dari pemerintah, dalam setahun 200 ribu orang pedofil dari luar negeri masuk ke Indonesia dalam setahun. ’’Ini yang perlu diwaspadai orang tua,’’ jelas dia yang juga Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Barat.
Dengan begitu, orang tua baiknya tidak dulu bangga ketika anaknya senang dengan orang asing. Tidak semua mereka yang datang ke Indonesia itu baik. Sama halnya dengan pelaku kejahatan di negeri sendiri. Kesenangan yang berlebih itu misal ditunjukkan dengan membebaskan anak berinteraksi tanpa kontrol dengan warga negara asing. Apalagi yang baru dikenal. Atau bahkan, tidak dikenal sama sekali.
Itu artinya, secara tidak sadar, baik anak maupun perempuan bisa jadi objek korban human trafficking yang dilakukan oknum warga negara asing. Terutama bagi anak-anak yang tinggal di desa atau pedalaman saat melihat orang asing. Seperti hal yang menyenangkan dan membuat bangga ketika bisa berinteraksi. Meski hanya dengan bersalaman. ’’Jangan bangga dulu kalau lihat anak kita senang dengan orang bule,’’ papar penerima penghargaan Nugra Jasa Darma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional RI ini.
Netty menyampaikan, upaya yang dapat dilakukan keluarga saat ini adalah membentengi dari dampak negatif arus manusia. Baik itu dengan keimanan dan ketakwaan maupun ilmu pengetahuan. Hal itu perlu diketahui bukan dalam konteks pesimistis menyikapi berlakunya sebuah sistem, melainkan hal yang perlu dipahami. ’’Agar kita bisa lebih bijak saja menyikapinya,’’ ucap perempuan kelahiran 15 Oktober 1969 ini.
Rumah besar dari upaya pencegahan itu adalah memperkuat ketahanan keluarga. Sebab, tanpa hal itu, bakal sulit membentengi anak-anak dari dampak buruk MEA dan pergeseran pola asuh anak. Meski sebenarnya, ketahanan keluarga bisa membawa manfaat untuk banyak hal. Mulai yang terkecil sampai membawa akibat besar bagi bangsa.
Netty menyebut, begitu pentingnya persoalan keluarga ini juga yang membuat ruang pembahasan program atau penyelesaian masalah tidak berhenti di suasana formal. Opsi itu dipilih semata untuk mengoptimalkan waktu yang dimiliki. Sambil tetap membuat semua tugas yang dipercayakan menjadi prioritas.
Ruang tersebut contohnya dalam kesempatan berolah raga. Lebih khusus lagi saat berenang. Baik itu sesudah, maupun sebelum berenang. Ya, tidak jarang, dirinya rapat dengan pengurus P2TP2A sambil byarr byurr byarr byurr.
Selain karena memang sangat suka berolah raga, menurut ibu enam anak ini, memilih ruang tidak formal terkadang bisa mendorong lahirnya ide dan inovasi. Akibat dari kesegaran suasananya. Di samping itu, dirinya pun bisa berinteraksi dengan masyarakat pecinta renang. ’’Kawan-kawan di P2TP2A Jabar sudah hafal. Kita suka bahas program di kolam renang,’’ terang alumnus Pascasarjana Kajian Wanita Univeritas Indonesia ini.
Olah raga pula dimanfaatkan Netty sebagai kegiatan yang dipilih untuk mengampanyekan anti kekerasan terhadap anak dan perempuan. Pada banyak kesempatan, cara itu membuahkan hasil bagi pengumpulan dana amal maupun tujuan sosial lainnya. Selain itu, murah, lebih familier untuk masyarakat. Dengan begitu, harapannya pesan dapat dengan mudah sampai. ’’Tidak semua masalah memang selesai di kolam renang. Tetap, ada juga yang kami selesaikan di rapat formal,’’ ungkap dia.
Saking rutinnya renang, ada masyarakat yang justru lebih hafal jadwal dirinya berenang dalam sepekan. Biasanya mereka datang untuk keperluan banyak hal. Mulai minta pendapat, curhat masalah keluarga, menilai kerajinan tangan dan bagaimana pengembangan produknya. Tak jarang ada yang minta bantuan modal. Macam-macam pokoknya. Bahkan, sampai ada masyarakat yang kehilangan ketika jadwal renang itu tiba, tapi Netty tidak ada di kolam renang karena kesibukan lain.
Pada banyak kesempatan, Netty pun kerap turun tangan sendiri menjemput anak korban kekerasan maupun perempuan. Sekaligus memberikan sentuhan penanganannya sebagai ibu dan sesama perempuan.
’’Kalau sudah begitu kan mereka yang lebih hafal jadwal renang saya dari pada saya sendiri. Waktu saya sudah punya masyarakat. Tapi ya ngga apa-apa, menjadi pengingat juga bagi saya, ada masyarakat di luar sana yang sangat membutuhkan kehadiran kita,’’ selorohnya lagi.
Hobi Netty berolah raga ternyata bukan hanya renang. Masih ada yang lain. Lari dan bersepeda. Jadi, tidak usah khawatir bagi yang tidak bisa, atau tak suka berenang. Masih banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan Netty. (*)
Cemas 200 Ribu Orang Pedofil Setahun Masuk ke Indonesia













